Literasi Ramah Disabel




seminar nasional literasi ramah disabel Tulungagung



BERITA JURNALIS WARGA  - “Temen-temen difabel itu jauh dari surga, untuk pergi ke tempat ibadah, tidak ada tanda jalannya. Mendengarkan ceramah keagamaan, tidak ada penterjemahnya. Mau baca Al-quran braile, teramat maha, harganya mencapai 4,5 juta.” Papar kang Wawa (panggilan akrab Hari Kurniawan, Ketua LBH Disabilitas Jatim) di sela sesi diskusi Seminar Nasional : Literasi Ramah Difabel yang di gelar kemarin senin , 2 januari 2017.

Candaan halus kang Wawa ini tentu sebagai bentuk sindiran terhadap semua pihak terkait tidak begitu “ramah”nya kita terhadap saudara-saudara kita penyandang difabel. 

Membuka isu disabilitas untuk publik akan menguatkan amanat UU No.8/2016 tentang PENYANDANG DISABILITAS yang kini lebih berorientasi pada pemberdayaan dan bukan charity semata seperti yang selama ini tertuang dalam undang-undang sebelumnya (UU No.04/1997). Difabel, disabilitas, atau keterbatasan diri (disability) dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini.

UU No.04/1997 dengan pendekatan yang sangat charity, mengakibatkan kebijakan pemerintah bagi penyandang disabilitas (penyandang cacat) cenderung berbasis belas kasihan (charity), sehingga kurang memberdayakan penyandang disabilitas untuk terlibat dalam berbagai masalah. 

Kenyataannya, saat ini banyak para penyandang tunanetra yang tidak hanya berprofesi sebagai tukang pijat, di Malang – Jawa Timur seorang tunanetra bisa menjadi ahli IT, dan di Jawa Tengah ada beberepa kelompok petani toga, saat ini jahe merah hasil produksi mereka diambil oleh salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia.

Banyak yang diceritakan oleh alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini, salah satunya yang menarik adalah tentang budaya tuli. Bahwa audaya tuli tidak hanya bagaimana mereka mampu untuk berkomunikasi, tapi bagaimanan mereka mampu menikmati budaya yang ada, bagaimana mereka bias memainkan alat musik tanpa harus mendengarnya tapi merasakannya. Bahasa isyarat sendiri di Indonesia ternyata juga cukup banyak, lebih dari 365 bahasa.

Selain Hari Kurniawan, Seminar Nasional ini juga menghadirkan satu nara sumber yang juga aktif dalam organisasi difabel, yaitu Didik Prayitno, Ketua PERCATU (Persatuan Cacat Tubuh) Tulungagung yang juga pembina di TBM “LENTERA ILMU” Desa Waung, Boyolangu, Tulungagung. Kali ini Didik Prayitno lebih mengenalkan beberapa kegiatan sosial yang dilakukan oleh percatu, diantaranya mengadakan sosialisasi pada masyarakat dengan aksi turun ke jalan guna mengurangi stigma masyarakat yang selama ini terbentuk.

Dilebih dari 2 Jam Seminar, sesi terakhir yang menjadi begitu menarik. Sesi terakhir yang di isi dengan Tanya jawab ini mendapatkan banyak atensi, jika tidak karena keterbatasan waktu maka hampir seluruh peserta seminar akan mengajukan pertanyaan. Wajar saja, mengingat ternyata masih banyak kebijakan, masalah dan kejadian yang dialami bagi teman-teman difabel. Termasuk tersediannya sekolah inklusi, karena kenyataannya di kota Malang sendiri dari 30 sekolah yang mengaku sekolah inklusi, nyatanya hanya ada 2 sekolah yag benar-benar menjalankan Pendidikan Inklusi.

Secara terpisah Bunda Zakyzahra Tuga selaku founder Pena Ananda, sebagai penyelenggara Seminar Nasional : Literasi Ramah Difabel menyampaikan Charity mentality secara terus-menerus menjadi sangat tidak memberdayakan, justru itu melemahkan. Yang bisa dilakukan oleh orang dan kelompok dengan charity mentality adalah “menunggu bantuan“, “memburu bantuan“, “menunggu gretongan” dan “memburu gretongan“. 

Dampaknya: daya kompetisi sangat rendah, kreativitas apalagi, selalu memandang orang dan kelompok yang berpotensi sebagai saingan dan ancaman, dan itu sangat merugikan dalam pembentukan pribadi dan karakter siapapun. Mereka tak mengenal investasi strategis. Sehingga perubahan undang-undang No.04/1997 menjadi UU No.8/2016 sangatlah tepat. Bahkan ini mengingatkan pada tidak hanya para penyangdang difabel. [Penulis ENDRITA AGUNG Sumber : http://endrita.co.id ]


Literasi Ramah Disabel Literasi Ramah Disabel Reviewed by SIWI SANG on January 18, 2017 Rating: 5

No comments

#FBM2017

#FBM2017